![]() |
Teks tidak dalam format asli.
Kembali

| No. 169, 2011 |
Kondisi saat ini | Target 2014 | |
| Jumlah kasus TB per 100,000 penduduk | 235 | 224 |
| Persentase kasus baru TB paru (BTA positif) yang ditemukan | 73 | 90 |
| Persentase kasus baru TB paru (BTA positif) yang disembuhkan | 85 | 88 |
| Acuan dasar | Saat ini | Target MDGs 2015 | Status | Sumber | Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria dan penyakit menular lainnya | |||||||||
| Target 6c: Mengendalikan penyebaran dan mulai menurunkan jumlah kasus baru malaria dan penyakit utama lainnya hingga Tahun 2015 | ||||||||||||||
| 6.9 | Angka kejadian, prevalensi dan tingkat kematian akibat Tuberkulosis | 6.9.a. | Angka kejadian Tuberkulosis (semua kasus/100,000 penduduk/tahun) | 343 (1990) | 228 (2009) | Dihentikan, mulai berkurang | Sudah tercapai | Laporan TB Global WHO, 2009 | ||||||
| 6.9.b. | Tingkat prevalensi Tuberkulosis (per 100,000 penduduk) | 443 (1990) | 244 (2009) | Sudah tercapai | 6.9.c. | Tingkat kematian karena Tuberkulosis (per 100,000 penduduk) | 92 (1990) | 39 (2009) | Sudah tercapai | |||||
| 6.10 | Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dan diobati dalam program DOTS | 6.10.a. | Proporsi jumlah kasus Tuberkulosis yang terdeteksi dalam program DOTS | 20,0% (2000) | 73,1% (2009) | 70,0% | Sudah tercapai | Laporan TB Global WHO, 2009 | ||||||
| 6.10.b. | Proposi kasus Tuberkulosis yang diobati dan sembuh dalam program DOTS | 87,0% (2000) | 91,0% (2009) | 85,0% | Sudah tercapai | Laporan Kemkes 2009 | 2. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 Mengacu pada RPJMN, Kementerian Kesehatan menetapkan empat misi dalam rencana stratejik 2010-2014 sebagai berikut: 1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; 2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan berkeadilan; 3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; serta 4. Menciptakan tata kelola pemerintah yang baik. Berdasarkan misi tersebut Kementerian Kesehatan telah merumuskan enam strategi utama, meliputi: 1. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerja sama nasional dan global 2. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang merata, bermutu dan berkeadilan, serta berbasis bukti dengan mengutamakan upaya promotif dan preventif; 3. Meningkatkan pembiayaan pembangunan kesehatan, terutama untuk mewujudkan jaminan sosial kesehatan nasional; 4. Meningkatkan pengembangan dan pendayagunaan SDM kesehatan yang merata dan bermutu; 5. Meningkatkan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan obat dan alat kesehatan serta menjamin keamanan, khasiat, kemanfaatan, dan mutu sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan; dan 6. Meningkatkan manajemen kesehatan yang akuntabel, transparan, berdayaguna dan berhasilguna untuk memantapkan desentralisasi kesehatan yang bertanggung jawab. Selain strategi utama tersebut, Kementerian Kesehatan juga menggarisbawahi perlunya upaya reformasi kesehatan yang dielaborasi lebih lanjut dalam dokumen roadmap reformasi kesehatan masyarakat. Tujuh tujuan khusus dalam roadmap ini mempertegas strategi pembiayaan, sumber daya kesehatan (termasuk ketersediaan obat/alat kesehatan untuk program TB), dan manajemen kesehatan yang tercantum dalam strategi utama rencana strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014. B. Kebijakan global dan regional 1. Rencana Strategis Global Pengendalian TB 2006-2015 dan Rencana Strategis Global Pengendalian TB 2011-2015 Di tingkat global, Stop TB Partnership sebagai bentuk kemitraan global, mendukung negara-negara untuk meningkatkan upaya pemberantasan TB, mempercepat penurunan angka kematian dan kesakitan akibat TB serta penyebaran TB di seluruh dunia. Stop TB Partnership telah mengembangkan rencana global pengendalian TB Tahun 2011-2015 dan menetapkan target dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium untuk TB. Visi Stop TB Partnership adalah dunia bebas TB, yang akan dicapai melalui empat misi sebagai berikut: 1. Menjamin akses terhadap diagnosis, pengobatan yang efektif dan kesembuhan bagi setiap pasien TB. 2. Menghentikan penularan TB. 3. Mengurangi ketidakadilan dalam beban sosial dan ekonomi akibat TB. 4. Mengembangkan dan menerapkan berbagai strategi preventif, upaya diagnosis dan pengobatan baru lainnya untuk menghentikan TB. Target yang ditetapkan Stop TB Partnership sebagai tonggak pencapaian utama adalah: · Pada tahun 2015, beban global penyakit TB (prevalensi dan mortalitas) akan relatif berkurang sebesar 50% dibandingkan tahun 1990, dan setidaknya 70% orang yang terinfeksi TB dapat dideteksi dengan strategi DOTS dan 85% diantaranya dinyatakan sembuh. · Pada tahun 2050 TB bukan lagi merupakan masalah kesehatan masyarakat global. Selain itu, Stop TB Partnership juga mempunyai komitmen untuk mencapai target dalam Tujuan Pembangunan Milenium , seperti yang disebutkan pada tujuan 6, target 8 (to have halted and begun to reverse the incidence of TB) pada tahun 2015. Tujuan tersebut akan dicapai dengan strategi ganda yang akan dikembangkan dalam waktu 10 tahun ke depan, yaitu akselerasi pengembangan dan penggunaan metode yang lebih baik untuk implementasi rekomendasi Stop TB yang baru berdasarkan strategi DOTS dengan standar pelayanan mengacu pada International Standard for TB Care (ISTC). Tujuan yang ingin dicapai dalam Rencana Global 2006-2015 adalah untuk: 1. Meningkatkan dan memperluas pemanfaatan strategi untuk menghentikan penularan TB dengan cara meningkatkan akses terhadap diagnosis yang akurat dan pengobatan yang efektif dengan akselerasi pelaksanaan DOTS untuk mencapai target global dalam pengendalian TB; dan meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan kualitas obat anti TB; 2. Menyusun strategi untuk menghadapi berbagai tantangan dengan cara mengadaptasi DOTS untuk mencegah, menangani TB dengan resistensi OAT (MDR-TB) dan menurunkan dampak TB/HIV; dan 3. Mempercepat upaya eliminasi TB dengan cara meningkatkan penelitian dan pengembangan untuk berbagai alat diagnostik, obat dan vaksin baru; serta meningkatkan penerapan metode baru dan menjamin pemanfaatan, akses dan keterjangkauannya. Dalam perkembangannya, konsensus dalam pengendalian TB dengan resistensi OAT merupakan tonggak penting di tingkat Global (After Beijing). Konsensus antar Menteri tersebut mengidentifikasi 10 upaya untuk mengatasi sumbatan dalam pengendalian M/XDR TB, sebagai berikut: 1. Memprediksi pengendalian epidemi MDR-TB 2. Mempersempit celah dalam program pengendalian TB 3. Menyediakan penatalaksanaan dan pengobatan M/XDR TB 4. Menerapkan batasan ketenagakerjaan bidang kesehatan 5. Menjawab kebuntuan di laboratorium 6. Menjamin akses terhadap OAT standar 7. Membatasi ketersediaan OAT yang beredar 8. Memprioritaskan pengendalian TB 9. Memaksimalkan peluang penelitian M/XDR TB 10. Membiayai pengendalian dan perawatan M/XDR TB Rencana global 2011-2015 merupakan penyesuaian dan penyempurnaan dari rencana global 2006-2015. Penyesuaian ini dilakukan untuk mengakomodasi: pencapaian sejak 2006; perubahan kebijakan dan biaya terkait pengobatan antiretroviral; perkembangan MDR-TB, revisi estimasi epidemiologi; penguatan laboratorium; dan pentingnya mencakup keseluruhan spektrum penelitian (dari penelitian dasar hingga riset operasional). Rencana global 2011-2015 menjabarkan apa yang perlu dilakukan untuk mencapai target-target 2015 yang telah ditetapkan dalam MDGs dan oleh Stop TB Partnership. Untuk mencapai target-target tersebut bagian pertama dari dokumen Rencana global 2011-2015 ini menguraikan upaya-upaya untuk transformasi pengendalian TB melalui peluasan intervensi diagnosis dan pengobatan TB, serta penerapan teknologi baru (terutama teknologi diagnostik). Bagian kedua dokumen Rencana global 2011-2015 ini menguraikan upaya-upaya yang diperlukan untuk mengembangkan diagnostik, obat dan vaksin baru yang diperlukan untuk revolusi pencegahan, diagnosis dan pengobatan TB sebagai dasar eliminasi TB dalam beberapa dekade yang akan datang. 2. Rencana Strategis Regional Asia Tenggara Kawasan Asia Tenggara dengan lima dari 22 negara dengan beban penyakit TB yang tertinggi didunia, 35% dari seluruh kasus TB di dunia berasal dari wilayah ini program pengendalian TB di wilayah ini telah menunjukkan kemajuan nyata dalam upaya penemuan kasus dan tingkat keberhasilan pengobatan yang telah mencapai target lebih dari 85%. Meskipun demikian, terdapat berbagai tantangan baru seperti halnya penyedia pelayanan yang belum menerapkan strategi DOTS, perluasan epidemi HIV dan cakupan surveilans resistensi obat yang masih rendah. Rencana strategis regional Asia Tenggara untuk Pengendalian TB 2006 - 2010 disusun berdasarkan rencana global, pencapaian dan tantangan di Asia Tenggara serta prioritas utama di masa depan. Negara-negara di kawasan ini didorong untuk memfokuskan kegiatannya dengan strategi sebagai berikut: 1. Meningkatkan dan memperluas pelayanan DOTS yang berkualitas agar dapat menjangkau seluruh pasien TB, meningkatkan tingkat penemuan kasus dan keberhasilan pengobatan; 2. Menetapkan intervensi untuk menghadapi tantangan TB/HIV dan MDR-TB; 3. Memperkuat kemitraan dalam menyediakan akses dan standar pelayanan yang diperlukan bagi seluruh pasien TB; dan 4. Berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan. Tingkat resistensi OAT di wilayah ini masih < 3%, akan tetapi jumlah pasien TB di wilayah ini sangat besar. Oleh karenanya, pencegahan meningkatnya kasus TB yang resisten obat menjadi prioritas penting. Secara umum kemajuan program pengendalian TB di wilayah Asia Tenggara akan berpengaruh terhadap keberhasilan global dalam program pengendalian TB. ANALISIS SITUASI A. Pencapaian dan Tantangan Pembangunan Nasional Keberhasilan pembangunan nasional dalam lima tahun terakhir tercermin dalam pencapaian berbagai indikator. Human Development Report (HDR) Tahun 2009 mengungkapkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) Indonesia meningkat dari 0,711 pada tahun 2004 menjadi 0,734 pada tahun 2007 (UNDP 2009). Namun peningkatan IPM ini tidak disertai dengan peningkatan peringkat Indonesia. Pada tahun 2009 peringkatnya masih tetap rendah, yaitu 111 dari 182 negara. Pendapatan per kapita masyarakat Indonesia telah meningkat dari USD 1,186 pada tahun 2004 menjadi USD 2,271 pada akhir 2008 (Bappenas 2010). Dengan kenaikan ini, Indonesia termasuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah bawah (lower middle income countries). Percepatan pertumbuhan ekonomi tersebut juga telah berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan. Tingkat kemiskinan berdasarkan garis kemiskinan, telah menurun dari 16,7 persen (36,1 juta orang) pada tahun 2004 menjadi 14,1 persen (atau 32,5 juta orang) pada Maret 2009 (Bappenas 2010). Meskipun demikian bangsa Indonesia tidak dapat berpuas diri dengan pencapaian sekedar berbasis garis kemiskinan nasional ataupun pendapatan di bawah 1 USD per hari. Beberapa negara menerapkan pula indikator pendapatan di bawah 2 USD per hari per kapita. Dengan menggunakan ukuran ini, maka pada tahun 2006 sekitar 49 persen penduduk hidup dengan pendapatan di bawah 2 USD per hari (UNDP 2007). Hal ini menggambarkan bahwa penduduk yang hidup dekat dengan garis kemiskinan nasional jumlahnya masih sangat besar. Kelompok ini tergolong rentan karena apabila terjadi goncangan ekonomi akibat kejadian seperti gangguan kesehatan, maka dengan mudah dapat jatuh ke kelompok miskin dengan pendapatan di bawah 1 USD per hari. Dengan demikian tantangan yang lebih besar bagi bangsa Indonesia adalah mengurangi jumlah orang miskin dengan mengacu pada ukuran 2 USD per hari per kapita. B. Pencapaian dan Tantangan Pembangunan Kesehatan Nasional Status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia secara umum menunjukkan perbaikan dalam beberapa tahun terakhir, yang tercermin dari pencapaian Umur Harapan Hidup (UHH), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), dan prevalensi kekurangan gizi pada balita (Bappenas 2010). AKI telah menurun secara signifikan, meskipun masih perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai sasaran MDGs menjadi 102 per 100 ribu kelahiran hidup pada akhir tahun 2015. Rendahnya akses dan kualitas pelayanan kesehatan ibu menjadi penyebab utama masih tingginya kematian ibu. Kondisi ini ditandai dengan rendahnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dengan disparitas yang lebar antar provinsi (tertinggi di DKI Jakarta sebesar 97,6 persen dan terendah di Maluku Utara sebesar 38,0 persen) (Balitbangkes 2007). Kesehatan anak juga menunjukkan kecenderungan membaik. Data SDKI menunjukkan penurunan AKB dari 35 menjadi 34 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2007, namun masih jauh lebih tinggi dari target AKB dalam MDGs pada tahun 2015, yaitu sebesar 23 per 1000 kelahiran hidup. Penyakit menular masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat dan penyakit tidak menular cenderung meningkat. Beberapa penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat antara lain, TB, Demam Berdarah Dengue (DBD), diare, malaria, HIV/AIDS. Selain itu, muncul pula penyakit zoonotik sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berpotensi menimbulkan pandemik, seperti flu burung dan influenza tipe A baru (virus H1N1). C. Sistem Kesehatan Secara nasional, jumlah Fasilitas Pelayanan Kesehatan (FPK) terus meningkat, akan tetapi aksesibilitas masyarakat terutama penduduk miskin di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan kepulauan terhadap FPK masih terbatas. Pada tahun 2007 rasio puskesmas terhadap penduduk adalah 3,6 per 100.000 penduduk. Selain itu, jumlah puskesmas pembantu (Pustu) dan puskesmas keliling (Pusling) terus meningkat. Akses masyarakat dalam mencapai FPK dasar cukup baik, yaitu 94 persen masyarakat dapat mengakses FPK dengan jarak kurang dari 5 km (Riskesdas, 2007). Walaupun akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya sudah cukup bagus, kualitas pelayanannya masih perlu ditingkatkan, terutama untuk pelayanan kesehatan preventif dan promotif. Di beberapa wilayah terutama yang terpencil di Kawasan Indonesia Timur masih banyak penduduk yang menghadapi kendala jarak dan waktu untuk mencapai FPK. Kondisi ini diperburuk dengan kondisi jalan, transportasi yang terbatas dan listrik yang masih belum memadai. Ketersediaan SDM di fasilitas pelayanan kesehatan di daerah-daerah tersebut juga masih merupakan masalah. Jumlah Rumah Sakit Umum (RSU) pemerintah meningkat dari 625 (2004) menjadi 667 (2007), sedangkan rumah sakit swasta meningkat dari 621 menjadi 652. Pada tahun 2007, rasio Tempat Tidur (TT) rumah sakit terhadap penduduk sebesar 63,3 TT per 100.000 penduduk (Profil Kesehatan, 2007). Rasio ini masih lebih rendah dari target nasional tahun 2009 sebesar 75 TT per 100.000 penduduk. Selain itu, sistem rujukan belum optimal walaupun utilisasi fasilitas pelayanan kesehatan meningkat pesat. Jumlah, jenis, dan kualitas tenaga kesehatan terus meningkat, tetapi distribusinya belum merata. Rasio tenaga kesehatan per 100.000 penduduk untuk dokter, dokter spesialis, perawat, dan bidan mengalami peningkatan pada periode Tahun 2004-2008. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di wilayah Asia Tenggara, Indonesia memiliki jumlah dan rasio tenaga dokter yang relatif masih rendah dari Filipina dan Malaysia. Selain itu, distribusi tenaga dokter lebih banyak berpusat di pulau Jawa-Bali dan di daerah perkotaan. Ketersediaan dan pemerataan obat dan perbekalan kesehatan terus membaik, tetapi keterjangkauan, penggunaan dan mutu obat, serta pengawasan obat dan makanan masih belum optimal. Ketersediaan obat esensial di Puskesmas mencapai lebih dari 80 persen. Hingga saat ini, terdapat sekitar 16.000 jenis obat yang terdaftar dan 400 jenis obat yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), 220 di antaranya merupakan obat generik esensial (Bappenas 2010). Selain itu, Indonesia telah memiliki kemampuan dalam penyediaan vaksin, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun ekspor. Efektivitas manajemen sistem informasi kesehatan masih belum optimal (Bappenas, 2010). Arus informasi data survailans epidemiologi dari daerah ke pusat dan sebaliknya terutama yang berbasis fasilitas mengalami berbagai hambatan sejak desentralisasi. Kekurangan data sangat mempengaruhi proses perencanaan. Ketersediaan data lebih mengandalkan hasil survei yang ketersediaannya belum sesuai dengan periode untuk keperluan perencanaan dan evaluasi program. Pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan diwujudkan dalam bentuk promosi kesehatan dan UKBM, seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), yang bertujuan untuk memberdayakan individu, keluarga, dan masyarakat dalam melaksanakan upaya pemeliharaan kesehatan secara mandiri. Pada tahun 2006 tercatat sekitar 270.000 Posyandu yang mempunyai peran cukup penting dalam kegiatan imunisasi, gizi, dan upaya Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), KB, pengendalian diare, dan penyuluhan kesehatan masyarakat. Integrasi kegiatan posyandu dengan kegiatan lain seperti Pos Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bina Keluarga Balita (BKB) dan Tempat Penitipan Anak (TPA) perlu terus ditingkatkan. Pada tahun 2008 telah tersedia lebih dari 43.000 Poskesdes sebagai bagian dari infrastruktur Desa Siaga. Indonesia telah membangun landasan hukum yang luas untuk maju menuju Cakupan Semesta (Universal Coverage) (World Bank 2009). Pada tahun 2004 (UU SJSN 2004) pemerintah telah membuat komitmen untuk menyediakan jaminan asuransi kesehatan bagi seluruh masyarakat melalui suatu sistem asuransi kesehatan publik yang bersifat wajib. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang berani dengan menyediakan jaminan asuransi yang mencakup sekitar 76,4 juta warga miskin dan hampir miskin, yang dibiayai melalui anggaran pemerintah. Walaupun demikian, lebih dari setengah jumlah penduduk masih belum memiliki jaminan asuransi kesehatan, dan dampak fiskal dari program pemerintah untuk kaum miskin ini belum sepenuhnya ditelaah atau dirasakan. Selain itu, kelemahan-kelemahan yang signifikan dari efisiensi dan kepemerataan sistem kesehatan yang ada sekarang, jika tidak ditangani akan semakin meningkatkan tekanan biaya dan dapat mengganggu penerapan efektif dari Cakupan Semesta dan peningkatan status kesehatan masyarakat serta perlindungan finansial yang diinginkan. D. Situasi TB di Indonesia 1. Epidemiologi Indonesia sekarang berada pada ranking kelima negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Estimasi prevalensi TB semua kasus adalah sebesar 660,000 (WHO, 2010) dan estimasi insidensi berjumlah 430,000 kasus baru per tahun. Jumlah kematian akibat TB diperkirakan 61,000 kematian per tahunnya. Indonesia merupakan negara dengan percepatan peningkatan epidemi HIV yang tertinggi di antara negara-negara di Asia. HIV dinyatakan sebagai epidemik terkonsentrasi (a concentrated epidemic), dengan perkecualian di provinsi Papua yang prevalensi HIVnya sudah mencapai 2,5% (generalized epidemic). Secara nasional, angka estimasi prevalensi HIV pada populasi dewasa adalah 0,2%. Sejumlah 12 provinsi telah dinyatakan sebagai daerah prioritas untuk intervensi HIV dan estimasi jumlah orang dengan HIV/AIDS di Indonesia sekitar 190.000-400.000. Estimasi nasional prevalensi HIV pada pasien TB baru adalah 2.8%. Angka MDR-TB diperkirakan sebesar 2% dari seluruh kasus TB baru (lebih rendah dari estimasi di tingkat regional sebesar 4%) dan 20% dari kasus TB dengan pengobatan ulang. Diperkirakan terdapat sekitar 6.300 kasus MDR TB setiap tahunnya. Meskipun memiliki beban penyakit TB yang tinggi, Indonesia merupakan negara pertama diantara High Burden Country (HBC) di wilayah WHO South-East Asian yang mampu mencapai target global TB untuk deteksi kasus dan keberhasilan pengobatan pada tahun 2006. Pada tahun 2009, tercatat sejumlah sejumlah 294.732 kasus TB telah ditemukan dan diobati (data awal Mei 2010) dan lebih dari 169.213 diantaranya terdeteksi BTA+. Dengan demikian, Case Notification Rate untuk TB BTA+ adalah 73 per 100.000 (Case Detection Rate 73%). Rerata pencapaian angka keberhasilan pengobatan selama 4 tahun terakhir adalah sekitar 90% dan pada kohort tahun 2008 mencapai 91%. Pencapaian target global tersebut merupakan tonggak pencapaian program pengendalian TB nasional yang utama. 1995-2009 Meskipun secara nasional menunjukkan perkembangan yang meningkat dalam penemuan kasus dan tingkat kesembuhan, pencapaian di tingkat provinsi masih menunjukkan disparitas antar wilayah (Tabel 3). Sebanyak 28 provinsi di Indonesia belum dapat mencapai angka penemuan kasus (CDR) 70% dan hanya 5 provinsi menunjukkan pencapaian 70% CDR dan 85% kesembuhan. | CDR e70% | CDR < 70% | |||||
| SR e85% | Jabar, Sulut, Maluku, DKI Jakarta, Banten (5) | Bali, Sulbar, Babel, Sumbar, Kalteng, Jatim, Sulsel, Jateng, Lampung, NTB, Jambi, NAD, Kalsel, Sumsel, Sultra, Kepri, Sumut, Gorontalo, Bengkulu, Kalbar, NTT Kaltim, Sulteng (23) | ||||||||||||
| SR < 85% | Tidak ada | Papua Barat, Papua, DIY, Malut, Riau (5) |
Tahun | Tonggak pencapaian | |||
| Pra 1995 | Pra-kemerdekaan: Program TB dilakukan oleh pihak swasta bagi kelompok masyarakat tertentu | |||
| 1969: Program Pengendalian TB Nasional dimulai | ||||
| 1987: Kemoterapi jangka panjang selama 1-2 tahun | ||||
| 1992: Ujicoba strategi DOTS | ||||
| 1995 | Indonesia mengadopsi DOTS sebagai strategi nasional penanggulangan dengan ekspansi bertahap | 1995-1999 | Ekspansi DOTS bertahap keseluruh Puskesmas | |
| 1999 | Gerdunas-TB (Policy: DOTS dilaksanakan di seluruh Unit Pelayanan Kesehatan) Inisiasi DOTS di Rumah Sakit | 2000-2005 | Intensifikasi strategi DOTS dengan peningkatan kualitas | |
| 2006-2010 | Konsolidasi dan implementasi inovasi dalam strategi DOTS |
| Jumlah total FPK | Jumlah (%) FPK yang telah menerapkan DOTS | |
| Puskesmas | 7352 | |
| BP4 | 26 | |
| RS Paru | 9 | |
| Rumah Sakit | 1645 | |
| · RS Pemerintah | 563 | |
| · RS BUMN | 78 | |
| · RS TNI/Polri | 147 | |
| · RS Swasta | 848 | |
| Praktisi Swasta | 55000 |
Fungsi Kemitraan | Mitra |
| 1. Kebijakan, perencanaan, pengarahan, struktur: | |
| Bantuan teknis TB | WHO, KNCV |
| Manajemen dan pengadaan obat | MSH |
| Implementasi DOTS di rumah sakit | Dirjen Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia |
| Analisis data | Balitbangkes, UI, UGM, Perguruan Tinggi setempat, institusi penelitian |
| Advokasi dan komunikasi | Koalisi Untuk Indonesia Sehat |
| 2. Pembiayaan dan alokasi dana: | |
| Dana eksternal | GFATM, USAID /TBCTA , JICA |
| 3. Penyedia pelayanan | |
| Jejaring antar penyedia pelayanan (Asosiasi profesi) | ARSADA, ARSI, IBI, IDAI, IDI, IRSPI, PAPDI, PDPI, PERSI, PPNI, PPPKMI, IAKMI dll |
| Sektor pemerintah | Kementerian Kesehatan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, POLRI, TNI, Kementerian Sosial, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Tenaga kerja dan Transmigrasi dll |
| Pelayanan TB di masyarakat | PPTI, Aisyiyah, CARE, Hope Worlwide Indonesia, LKC, Muhammadiyah, NU, PKPU, PELKESI, PERDHAKI, PKK, World Vision Indonesia, Pamali, LPMI |
| Perusahaan | PT Kaltim Prima Coal, PT Freeport dll |
| Kolaborasi TB-HIV | FHI, Spiritia, LSM HIV/AIDS lainnya |
| Dukungan sosial | Tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh politik, dll. |
| Baseline | 2010 | 2011 | 2012 | 2013 | 2014 | Prevalensi TB (per 100.000) | 217 | 207 | 197 | 188 | 180 | Case detection rate (%) | 73 | 75 | 80 | 85 | 90 | |||||
| Success rate (%) | 88 | 88 | 88 | 88 | 88 | Persentase provinsi dengan CDR e70% | 15 | 25 | 35 | 45 | 50 | |||||||||||
| Persentase provinsi dengan SR e85% | 84 | 84 | 84 | 86 | 88 | Guna mencapai sasaran-sasaran di atas maka strategi-strategi yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan perluasan pelayanan DOTS yang bermutu 2. Menangani TB/HIV, MDR-TB, TB anak dan masyarakat miskin serta rentan lainnya 3. Melibatkan seluruh penyedia pelayanan kesehatan milik pemerintah, masyarakat dan swasta mengikuti International Standards of TB Care 4. Memberdayakan masyarakat dan pasien TB 5. Memperkuat sistem kesehatan, termasuk pengembangan SDM dan manajemen program pengendalian TB 6. Meningkatkan komitmen pemerintah pusat dan daerah terhadap program TB 7. Meningkatkan penelitian, pengembangan dan pemanfaatan informasi stratejik E. Sasaran khusus 1. Meningkatkan Perluasan Pelayanan DOTS yang Bermutu | Sasaran 2014 | |||||||||||||||
| Case notification rate (CNR) | ||||||||||||||||||||||
| Persentase laboratorium yang mengikuti pemantapan mutu eksternal (cross-check dan panel test) untuk pemeriksaan mikroskopis dahak | ||||||||||||||||||||||
| Persentase laboratorium yang lulus pemantapan mutu eksternal (cross-check dan panel test) untuk pemeriksaan mikroskopis dahak | ||||||||||||||||||||||
| Persentase kabupaten/kota yang melaporkan tidak ada stock-out obat TB lini pertama (kategori 1; kategori 2 dan anak) pada hari terakhir setiap kuartal |
| Sasaran 2014 | |
| Persentase pasien TB anak di antara total pasien TB yang dilaporkan | |
| Persentase lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan yang menjalankan skrining TB rutin pada warga binaan pemasyarakatan baru | |
| Persentase pasien TB dengan hasil pemeriksaan HIV tercatat di register TB di antara total jumlah pasien TB yang di tes HIV di fasilitas pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan TB-HIV | |
| Persentase ODHA yang diskrining TB di antara jumlah total ODHA yang berkunjung ke unit KTS/PDP | |
| Persentase ODHA yang mendapatkan pengobatan TB di antara ODHA yang terdiagnosis TB | |
| Persentase pasien TB yang terdiagnosis HIV dan mendapatkan pengobatan profilaksis kotrimoxazole (PPK) di antara pasien TB yang terdiagnosis HIV | |
| Persentase suspek TB MDR yang menjalani DST di antara seluruh suspek TB MDR yang ditemukan | |
| Persentase pasien TB MDR konfirmasi yang mendapat pengobatan MDR-TB di antara pasien TB MDR konfirmasi |
| Sasaran 2014 | |
| Jumlah dan persentase rumah sakit dan BBKPM/BKPM/BP4 yang sudah melaksanakan strategi DOTS | |
| Persentase kasus baru TB BTA positif yang dilaporkan oleh rumah sakit dan BBKPM/BKPM/BP4 di antara total kasus baru TB BTA positif | |
| Angka keberhasilan rujukan | |
| Angka putus berobat di Rumah sakit | |
| Jumlah perusahaan yang memiliki unit DOTS dan melaporkan penemuan kasus TB |
| Sasaran 2014 | |
| Jumlah Poskesdes yang melaksanakan pelayanan TB | |
| Jumlah organisasi berbasis masyarakat yang memiliki kegiatan yang mendukung program pengendalian TB nasional | |
| Jumlah organisasi berbasis masyarakat yang memiliki unit DOTS dan melaporkan penemuan kasus TB | |
| Persentase kasus baru TB BTA positif yang merupakan hasil rujukan kader LSM di antara total kasus baru TB BTA positif yang dilaporkan | |
| Persentase populasi yang memiliki pemahaman yang benar tentang TB (cara penularan, tanda, gejala, pengobatan dan kesembuhan) | |
| Persentase pasien TB, petugas yang telah disosialisasikan piagam hak dan kewajiban pasien TB (PHKP) |
| Sasaran 2014 | |
| Persentase fasilitas pelayanan kesehatan DOTS yang memenuhi standar ketenagaan dalam program TB | |
| Persentase Kabupaten/Kota yang memenuhi standar ketenagaan dalam program TB | |
| Persentase Provinsi yang memenuhi standar ketenagaan dalam program TB | |
| Persentase institusi pendidikan kesehatan yang memasukkan strategi program pengendalian TB dalam kurikulum pendidikan | |
| DOTS dimasukkan dalam kriteria akreditasi Rumah sakit | |
| DOTS dimasukkan dalam kriteria sertifikasi dokter praktik | |
| Persentase fasilitas pelayanan kesehatan MDR-TB dan TB-HIV yang menerapkan pengendalian infeksi TB | |
| Persentase kabupaten/kota dengan staf TB yang terlatih dalam manajemen logistik (termasuk DMIS) dari seluruh kabupaten/kota | |
| Persentase unit pada seluruh tingkatan yang mengirimkan laporan penemuan kasus dan hasil pengobatan secara lengkap sesuai pedoman nasional |
| Sasaran 2014 | |
| Persentase kontribusi dana pusat untuk program pengendalian TB dibanding kebutuhan total untuk program pengendalian TB nasional | |
| Persentase kontribusi dana lokal provinsi untuk program pengendalian TB dibanding kebutuhan total untuk program pengendalian TB provinsi tersebut | |
| Persentase kontribusi dana APBD kabupaten/kota untuk program pengendalian TB dibanding kebutuhan total untuk program pengendalian TB kabupaten/kota tersebut | |
| Persentase dana swasta (termasuk asuransi) dan masyarakat untuk program pengendalian TB dibanding kebutuhan total untuk program pengendalian TB kabupaten/kota tersebut | |
| Persentase provinsi yang memberikan kontribusi APBD untuk program pengendalian TB minimal 5% | |
| Persentase kabupaten/kota yang memberikan kontribusi APBD untuk program pengendalian TB minimal 15% | |
| Sasaran 2014 | |
| Penelitian operasional yang diselesaikan dan hasilnya didiseminasikan dalam kegiatan sistem monitoring dan evaluasi TB nasional atau global |
Institusi | Peran dalam Implementasi Stranas | Institusi | Peran dalam Implementasi Stranas | Institusi | Peran dalam Implementasi Stranas | Pemerintah Pusat | · Pendanaan (APBN) | Kementerian Kesehatan | · Perencanaan dalam sektor kesehatan | Subdit Tuberkulosis | · Kebijakan dan pedoman program | · Penetapan prioritas | · Pendanaan | · Perencanaan program pengendalian TB | ||||||||||||||||||||||
| · Kebijakan | · Kepemimpinan teknis | · Pendanaan | · Koordinasi antar kementerian | · Koordinasi antar program (mis. TB-HIV) | · Pengembangan SDM untuk pengendalian TB | |||||||||||||||||||||||||||||||
| · Koordinasi antar Direktorat Jendral | · Monev dan Bimbingan Teknis | · Pemenuhan kebutuhan dan peningkatan kemampuan SDM | · Distribusi obat dan alat kesehatan dan Perbekalan kesehatan lainnya | · Pengadaan obat dan alat kesehatan, dan Perbekalan kesehatan lainnya | · Koordinasi kemitraan | · Kebijakan dalam bentuk regulasi, SK, dll | · EQA Lab | · Pencatatan dan Pelaporan | Peran dalam Implementasi Stranas | |||||||||||||||||||||||||||
| Dinas Kesehatan Provinsi | · | · Perencanaan di tingkat provinsi | ||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Koordinasi pelaksanaan kegiatan pengendalian TB di provinsi | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Mendorong ketersediaan dan peningkatan kemampuan SDM | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Monev dan Bimbingan Teknis | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Membantu pengadaan dan distribusi obat, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya yang diperlukan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Koordinasi dan kemitraan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · EQA Lab | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pencatatan dan Pelaporan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota | · Perencanaan di tingkat kabupaten/kota | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pendanaan APBD | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Koordinasi dan kemitraan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Implementasi program TB | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Mendorong ketersediaan dan peningkatan kemampuan SDM | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Membantu pengadaan dan distribusi obat, alat kesehatan dan perbekalan kesehatan lainnya yang diperlukan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Monev dan Bimbingan Teknis | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pencatatan dan Pelaporan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · EQA Lab (External QA) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| Fasilitas Pelayanan Kesehatan | · Penjaringan suspek dan deteksi kasus TB | |||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Rujukan pasien | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Kegiatan diagnostic | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pengobatan pasien | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pemantauan pengobatan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pelacakan kasus mangkir | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Penyuluhan masyarakat dan dukungan bagi pasien | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Pencatatan dan pelaporan | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Surveilans (Monev dan supervisi) | ||||||||||||||||||||||||||||||||||||
| · Lab: QA internal |
Masyarakat/LSM | · Rujukan suspek TB |
| · Advokasi | |
| · Pemantauan pengobatan | |
| Organisasi profesi | · Implementasi ISTC |
| · Continuing education | |
| · Sertifikasi praktisi swasta | |
| Institusi pendidikan/penelitian | · Pre-service training |
| · Penelitian |